Kamis, 26 Mei 2011

Sampuraga

KHOBAR PARJOLO

Lewat Blog Cerita ini, penulis ingin menceritakan “Cerita Sampuraga” versi penggabungan cerita
Sampuraga dari sumber internet dan sumber CD koleksi penulis. Tujuannya untuk lebih mudah dipahami.

Alasan hal ini penulis gabungkan karena cerita Sampuraga versi tulisan internet tidak spesifik
sehingga bagaimana gambaran kedurhakaan Sampuraga tidak jelas, Begitu juga dengan penderitaan
ibunya tidak terlalu jelas.

Dugaan penulis, cerita yang tidak terlalu jelas tidak terlalu
berpengaruh pada efek Afektif, kognitif dan behavior pembacanya. Sedangkan tujuan cerita adalah untuk
pengaruh tersebut. Artinya membuat sipembaca untuk tidak seperti si "Sampuraga".

POSISI PENULIS :
- Pada setiap cerita, penulis (Uwa72gar) seolah bercerita pada keponakan sendiri yang penulis sebut "si 72gar".
- Cerita ini adalah ulangan pemuatan.

SAMPURAGA :

Sebelum Uwa mulai bercerita, mari kita simak terlebih dahulu lirik lagu
dari Irama Gambus Mandahiling yang berjudul “Sampuraga”.

Sampuraga... namaila Marinang
Sampuraga... namaila Marinang
Ale...namaila Marinang

Legende di Mandailing
si Sampuraga nadurhako
baen ingoton di natading
Jadi tauladan di namamboto
jadi tauladan di namamboto

Manyogot di ombun manyorop
Dainang tangis tarilu-ilu
Manyogot di ombun manyorop
Dainang tangis tarilu-ilu

Sampuraga tu Dainang mangido moof
Langka ma au inang...do’ahon au

Langka ma au inang...do’ahon au
Ale...langkama au inang ...do’ahon au

Sampuraga dipangarattoan
dapotan baru halak nakayo
Sampuraga lupa daratan
lupa tu inang jadi durhako
Ale...lupa tu Inang jadi durhako

Hukum karma sian  Tuhan
aek susu dainang jadi lautan
Mate bonomma sahumaliang
dohot si Sampuraga anak durhako

      Demikian, singkat cerita Sampuraga   yang  telah  di ramu  ibu   Dinillah   Afdillah
dalam bentuk syair lagu. Untuk  melengkapi  syair tersebut, berikutnya Uwa72 akan bercerita
lebih rinci mengenai  Sampuraga ini. Mudah-mudahan para poparan kel. Bgd.Manahan dapat me
ngambil  manfaat dari cerita ini.
   
      Awal mula cerita ini para 72gar  bermula  dari Huta ni uma  Hapsah  yaitu  Padang Bolak  pada tahun antah barantah (Penulis tidak mengetahui Di huta ini tinggallah satu keluarga   yang   terdiri  dari  satu anak   dan  seorang ibu naung   mabalu  (  suaminya
meningal. Anak  dan  ibu  ini dalam
pekerjaannya sehari-hari ha
nyalah  buruh  dari  seorang majikan.
    Pekerjaan lainnya dari ibu
dan  anak  ini  hanyalah pen
cari  kayu  bakar yang kemu
dian di jual ke pasar sebagai
biaya hidup mereka.
      Karena  adanya  keinginan  besar
untuk merobah kehidupan kehal yang
lebih baik, adanya kasih sayang untuk
membahagiakan  orang  tua,  maka si
Sampuraga  meminta ijin pada ibunya
untuk pergi merantau.

Demikian pembicaan Sampuraga sama ibunya :
Sampuraga : O...uma,  uma...o...uma,
                      hita    nahais  manyogot
                      tuduk potang. Pangomo
                     an hum namambuat soban,  undenggan ma uma au kehe tan-
                     dang mangaratto tu Huta Naleban, uma...olo uma,...olo uma !
Ibunya : Sampuraga, anakku amang si nuan tunas, hodo batu-batu ni pusu
              ku Amang, ulang tinggalhon  au  Amang nasosak napas. Muda lak
              ka ma  amang  simanjojakmu  tu nadaoma so martujuan, tu ise do
              amang partonaonku, tudia doho amang nangkan jalahan
Sampuraga : Muda langka pe au atcogot, tibu do au mulak, ate-atekku pe
                      marngot-ngot huboto do uma damadung marsak.
Ibunya : Anggo nungi damang keputusannmu, lakkami nadabe tarambatan
             hupabuatho  Amang  dohot  do’akku, horas maho amang marhator
             kisan. Hutukkus  indahan balanjomu, hutaon Amang marsuap ilu ni
             mataulangho lupa Amang tu Inangmu nadung mabalu.

     Para72gar  pahoppu  Oppu  Rino,  se
telah mendapat persetujuan dari ibunya
maka  Sampuragapun, berangkat meran
tau ke Huta Na Leban.
    Huta na  Leban  ini  terakhir  diketahui
adalah  suatu  kerajaan yang bernama si
“Rambas”,  Kerajaan ini ada di Panyabu-
ngan   Mandailing saat ini.  Dan situsnya
pun ada ditempat desa si Rambas.

     Kita lanjut para72gar, pajeges parsa-
raormi Syahrul Ramdhan. Setelah si
Sampuraga di kerajaan si “Rambas”
maka beliapun memulai aktifitasnya, bekerja keras merobah kehidupan ke
hal yang lebih baik sesuai dengan tujuan. Karena kerja kerasnya, prestasi
nya dan lain hal, maka si Sampuragapun mendapat perhatian dari Raja
  Sampuraga  berkesempatan  untuk mendapat  pekerjaan  pada usaha dagang yang dimiliki oleh raja Silanjang.    Kebiasaannya bekerja dengan ra jin dan jujur  mendapat pujian dari sang  raja  sehingga  rajapun memper cayakan sepenuhnya kepada usaha perdagangannya sehingga menjadi maju sangat pesat. Dengan sendirinya Sampuraga menjadi kaya raya. Kehidupannya sudah menjadi saudagar kaya dengan penampilan bagaikan raja pula.Raja Silanjang menjadi jatuh hati kepada kesuksesan Sampuraga sehingga dia berniat mengawinkan putrinya dengan Sampuraga. Niatan itu tidak disia-siakan oleh Sampuraga lalu dia secara resmi melakukan pinangan. Tiba saatnya perkawinan dilangsungkan dalam suatu pesta meriah dengan mengundang raja-raja di sekitar negri itu. Berita pesta perkawinan itupun sampai ke telinga ibunya. Ibunya serasa tidak percaya bahwa anaknya ternyata telah sukses di negri orang dan menjadi seorang raja yang sedang melangsungkan perkawinannya.Sempat terlintas dipikiran ibunya dan bertanya dalam hatinya mengapa Sampuraga tidak memberitahukan rencana perkawinannya dengan putri raja itu kepada ibunya? Apakah dia sudah melupakan ibunya? Namun masih terngiang ditelinganya bagaimana Sampuraga meyakinkan ibunya bahwa dia harus berhasil untuk merubah nasib mereka. Ibunya memberanikan diri untuk menghadiri pesta perkawinan Sampuraga anaknya itu. Dengan bersusah payah maka diapun sampailah di tempat acara berlangsung.Dengan tubuh tua dan lusuh, ibunya terlihat menyolok disekitar pesta itu. Ibunya berusaha untuk bertemu langsung kepada Sampuraga, namun dia selalu tersingkir dari keramaian para undangan para raja-raja dan orang-orang kaya. Kemudian ibunya memberanikan diri berkata kepada
cayakan  sepenuhnya  usaha   perda gangannya sehingga menjadi maju sangat pesat.
     Dengan   sendirinya  Sampuraga menjadi  kaya  raya.  Kehidupannya sudah menjadi saudagar kaya deng an penampilan bagaikan raja pula.  Raja S ilanjang m enjadi  jatuh  hati kepada   kesuksesan    Sampuraga sehingga dia berniat mengawinkan putrinya dengan Sampuraga. Niatan itu tidak disia-siakan para 72gar.
     Maka setelah t iba  saatnya  Sampuragapun meminang.  Tiba saatnya perkawinan  dilangsungkan  dalam  suatu  pesta  meriah dengan mengun dang raja-raja di sekitar negri itu. Berita pesta  perkawinan itupun sampai ke telinga  ibunya.  Ibunya serasa  tidak percaya bahwa anaknya ternyata telah sukses  di  negri  orang  dan  menjadi seorang raja yang sedang me langsungkan perkawinannya.                                              
    Sempat terlintas dipikiran ibunya dan bertanya dalam hatinya mengapa Sampuraga tidak memberitahukan  rencana  perkawinannya dengan putri raja itu kepada ibunya?  Apakah  dia sudah  melupakan  ibunya?  Namun masih  terngiang ditelinganya bagaimana Sampuraga meyakinkan ibunya bahwa dia harus berhasil untuk merubah nasib mereka.
    Akhirnya Ibunya memberanikan diri untuk  menghadiri pesta perka winan Sampuraga anaknya itu.
    Tapi  para  72  gar, jarak antara
Padang Bolak dengan Panyabung an  tidaklah  sedekat  jarak antara Lobu Jelok dengan Hutasuhut, ha nya dengan mambelok saotik ma ka kitapun akan sampai.

     Untuk sampai dari Padang Bolak ke Panyabungan pada masa lampau bisa jadi harus melalui lampau bisa jadi harus melalui 7 lapis gunung yang penuh dengan hutan
belantara, tor tu tor, rura tu rura, tobing tu tobing, gasgas tu gasgas, rungga tu rungga, harus dilalui untuk dapat sampai ke Kerajaan Si Lanjang atau
si Lancang di Panyabungan.
    Belum lagi tempat-tempat angkernya
mual di toru ni haruaya bagas parpodo
man ni segala jihin, parbegubegu
an asar ni sagala begu. Semuanya ini
harus dilalui oleh ibu Sampuraga ini.

    Untuk kekusastraan Batak Angkola-
nya Oppui Odang S, telah meramunya
dalam lagu yang berjudul “Sampuraga”
Lagu ini menceritakan kisah perjalan
an ibunya pada saat berangkat menca
ri si Sampuraga. Berikut kutipannya
dan hayati syairnya :

Surat sanga tona pe
nada bolkas
Lungun ni Inangmon
namar si tutu
Marsak merjeng da
Amang si nuan tunas
Sibukku damang
marniang Marjinggolu

Di porom damang
da so tar porom
Burukpe appang
lek naso malamun
Morong pe au damang
morong-orong
Pupu marun batuk
hodo si ubat lungun

Hutegeti mardalan
mosor-osor
Manjalaki anakku
ho Sampuraga
Mamolus tombak
si longon-longon
Na manuat amang
jumomba jomba

Patakkas simanjojak
au amang
Pagayung alang
ni si mangido
Songon labi au mar
dalan gumapa gapa
Manjalaki ho amang
lek so pasuo

Nada tottu au amang
marpayongon
Sipareonku manetek
tu bibirki atcim
Marapi ni puncak
boltok marreuk
Marsupa gonggam
ni si mangido

Manombo mangan
ube ni sihim
Batu ni rimbangpe
amang huporngas
Marsak merjeng
sibukku mangging
Namalungun amang
tu si nuan tunas

    Allah maha kuasa, jika dia berkehen
dak apapun bisa terjadi. Maka sampai
jugalah Ibu yang malungun tu si nuan
tunas ini ke kerajaan si Lanjnang di
Panyabungan.

    Pada saat sampainya, si Sampura
ga lagi mengadakan pesta pernikahan
nya dengan boru ni si Raja Lanjang.

    Melihat penampilan ibu ini, masya-
rakat kerajaan ini agak kaget karena
ibu ini terlihat begitu miskin, bajunya
pun di dukkapan, belum lagi pama
ngnya kurus kering serta butuha nama
lean dohot nguasan.

     Karena kondisi ibu ini sudah tidak
terkondisikan, maka beliapun mulai
memberanikan diri untuk marsapa
ditengah-tengah kemeriahan pesta
si Sampuraga :

Ibu Sampuraga :
Marsapa ja da amang, huta aha de
amang goar nion ?

Penjaga makanan :
Huta si Rambas Inang.

Ibu Sampuraga :
Tai ribur huida halak Amang, ahado
na masa namuba ?

Penjaga makanan :
Tai pajongjong horja rajai.

Ibu Sampuraga :
Adong amang marsuo dihamu anakku
na margoar si Sampuraga ?

Penjaga makanan :
Ah...tai na tusia ma dipabagas boru ni
rajai, inda iboto halak uma laknani.


Ibu Sampuraga :
Inda Amang, iado jalahanku

Penjaga makanan :
Tai pandoknia, madung matedo inang
nia,   songononma  umani  rajai, naso
tidak-tidak dohalalaida.

Ibu Sampuraga :
Baen majo amang tu takaron indahan
munui,  Ahama  namale, betak napiga
arima naso mangani amang.

Penjaga Makanan :
Natar lehen inang songononma bahat
na nagot mangan
Uma Sampuraga :
Aek majo anggo  songoni,  pinomatna
sandornguk amang. Nguas nai amang
anakku doda amang si Sampuragai.

Penjaga Makanan :
Usir anak boru natobang on,

(Pada saat ibu ini mendapat perlakuan
tak baik dari  penjaga  makanan,  tiba-
tiba ia melihat anaknya si Sampuraga
dengan pakaian kebesarannya) :

Ibu Sampuraga :
O...Amang  anakku  Sampuraga,  tap-
pukni  pusupusukku   Amang,  jagitbo
Amang tangankon aso huabinko, aso
hu umma.  Amang...  ubatni lungunku
Amang Sampuraga :

Amang tappuk ni pusu pusukku
diparsuohon tuhan dope hita
Jagit tangankon aso hualukko hu umma
ubat ni lungunku Amang Sampuraga

Mardalan pe Amang marunjom-unjom
pupu unggal pupu tombom
Dung marsuo hape ho amang mangkunyom
Ate-atekkon Amang songon nadi sombom

Di na laos lakkaho sian bagasta
hutukkus indahan margule sira
Hape sannari ho Amang madung Raja
ulang ho Amang maila marina
Hape sannari ho Amang madung Raja
ulang ho Amang maila marina
Para 72gar,  setelah mendengar
perkataan  dari ibunya ini, maka
Sampuragapun turun dari istana
kerajaannya, sambil berkata :

Sampuraga :
He...! anak boru natobang,
ulangho disi, mabaen malu.
Madung matedo Amangku dohot
Inangku. (lanjutkan 72gar tarik
napas......)


Patutdo   songonko   on     Umakku
au   sada  Raja.  Narittik  do  rokku
on bo. Morot...! Morot...!! Morot......!
Morot...!!!  Naso  mamboto   uttung
kehe  sianon.  Ulang  dokkon - dok-
kon au anakmu.  Jawab...! jawab...!

Ibu Sampuraga :
Nanggo  lupa  au  Amang, adongdo
tihas   di  tanggorumu,   ligi  jolo  da
mang.  Sian  tagukonkon  doda   ho
amang  managuk.  Aek ni susukkon
do Amang pagodang-godangko. Ja
ri-jarikkon  do  amang   namagurasi
lappinmi. Sambilan bulanho amang
dibutahakkon. Hatcit Amang. Hatcit
Amang  mangkandungko, mangala
hirkon kho.

Ipattar   bulu   bagas  nai  tukkolani
Amang  kho  lahir.  Isi maho amang
lahir  Sampuraga.  Ho Amang anak
ku     Amang   Sampuraga.   Amang
anakku amang.

(Mendengar perlakuan tak baik dari
si  Sampuraga  pada  ibunya  maka
istrinyapun berucap) :

Istri Sampuraga :
Na  sogoni  be  dabo, anggo natutu
Inanta tapature. Bope miskin Inanta
doi.  Au  namaila  au paturei. Naron
durokoho.  Nadurokoi  duroko  pula
baginyo.

(Para tujupulu dua gar, mendengar
ucapan istrinya ini, tambah marah-
lahsi Sampuraga, dan dengan sua
ra lantang dia berkata) :

Sampuraga :
Ulu Balang...! Ulu balang...!

Ulu  balang...!  sarat  sianon  anak
boru onbo. Sarat....! sarat...! sarat
na tobang sosuanonon. Natobang
so  suanon  on.   Ayak  sianon  on.
Ayak..!   Morot...!   Morot....ttt.......!.
Usir sianon. Usir, usir, usir.

(Ini photo ese-ecenya 72gar)
Muda nara dak-dak, pangumban
songoni. Umban namahuai. Mam-
baen malu tu Raja si Rambas.
Mambaen malu tu Raja Sirambas.
Sarat. Sarat...!  Sarattttttt............!

Para pahoppu,  Oppu Rino.  Setelah
Mendapat perlakuan kasar dari Sam
puraga   bersama  Hulu   Balangnya,
maka ibunyapun berucap :
Makkasuak Amang abitkon
idahodo baju nadidukkapan
Di sarat au Amang di rekrekkon
Inda podo tuk hatcitni naso mangan

Makka barbar makka bugang mar
mudari sibukkon Amang boti mardaro
Pangumbani ni Ulu Balang
saotik peho Amang nada mangibo

Di usir ho au Amang Sampuraga
sian tagukonkon doho amang managuk
Dilehen Tuhan diho pangajaran
ibanado pangaduan laos mangangguk.

O..... Sampuraga namaila marina.
Aek ni susukkon dodamang nai
painum inummi. Sian tagukokkon
doho managuk Amang.
O..... Tuhanku. Lehen di anakkon
palajaran. Di anak na durako.
O...Sampuraga anak na durako.
Sampuraga....Sampuraga...........
Sampuraga................................!
(Akhirnya para 72gar, dalam rasa sa
kit hati  yang  mendalam, ibu Sampu
raga    inipun   berujar,  menyumpah,
meminta pada sang Ilahi) :

O..... Tuhanku. Lehen di anakkon
palajaran. Di anak na durako.
O...Sampuraga anak na durako.
Sampuraga....Sampuraga...........
Sampuraga................................!

Demikian cerita si Sampuraga 72gar.
Sampuraga namaila marina berakhir
dengan mate bonom.

Selanjutnya Uwa72garmerokok dulu
sebatang sambil perpikir-pikir apa ke-
simpulan bagi kita dengan mengetahui
cerita Sampuraga ini, untuk itu titik dua
koma la dulu. oke...!

Tulilla ma tulilla
tulilla ni padang-padang
tudiape natudia
jolo manginup majo sa

Kesimpulan Sekarang, bege Rino,
Mat, Sar, Hap, HY dan HT, Man, Syah,
dan fas :

Sada :
Dengan mengetahui cerita ini, kiranya
para pahoppu Oppu Rino terhindar da-
ri tragedi Sampuraga.

Dua :
Dengan mengetahui cerita ini, hendak
nya seorang anak lebih memperhatikan
orang tuanya.

Tiga :
Cerita ini pantas diceritakan kepada
anak dengan gaya penyesuaian sesuai
pemahaman anak. Tidak menceritakan
dengan gaya menakutnakuti.

Empat :
Jika ada kesempatan, waktu dan tem-
pat tak ada salahnya para 72gar men-
gunjungi situsnya di Desa Sirambas
Panyabungan Madina. Wassalam
titik ,

Lima :
Cerita ini, adalah hasil ramuan Uwa
72gar dari hasil mendengar lagu dan
info-info internet.

Enam :
Kepada para anggota Gambus Man
dahiling pimpinan Ibu Danillah dan
Odang S. serta Masdani dan para
krunya sebagai peramu sastra ang
kola Uwa ucapkan Terimakasih.
Publikasi hanya sebatas keperluan
keluarga besar Bgd. Manahan.
Angkola Sipirok.


Sumber : Cerita Internet + CD Koleksi Penulis
Cat : - Salut buat ibu Dinillah dan Odang S. dalam meramu cerita Sampuraga
      - Jika rezeki terbagi, tak ada salahnya kita melihat peninggalannya.
      - Pada saat tulisan ini dibuat, penulis merasa seperti mau menangis
        atas derita yang dialami si Ibu Sampuraga (Paten kali syairnya, dalam
        kali maknanya).
     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Dipersilakan